Sunday, December 2, 2007

Technorati

Technorati Profile

Friday, November 17, 2006

“Save our nation” di Metro tv -15 November 2006-

Topik: Perihal kunjungan George W. Bush 20 Nov 2006

Pembicara : Rizal Malarangeng, Desra Percaya, Hamid Basyaib, Saur Hutabarat


Ini hanyalah beberapa pernyataan dan pertanyaan yang muncul setelah menonton acara tersebut dan memang pernyataan dan pertanyaan ini berpola subjektif –itulah gunanya pendapat-. Saya merasa harga diri bangsa ini perlu dikukuhkan lagi. Beberapa komentar dari para pembicaranya terkesan memihak Amerika, ada yang berhati-hati dan ada yang masih memiliki prinsip kemanusiaan paling utuh. Selamat berpendapat.


‘Anak-anak Amerika’ Indonesia dengan ‘prestasi’ mereka yang pernah menginjakkan kaki dan mengenyam pendidikan di negeri paman sam merasa perlu bersuara ketika presiden negeri idola-nya George W. Bush yang akan datang ke tanah air Indonesia -yang sedang porak-poranda- di demo karena politik luar negerinya yang tidak manusiawi. Mereka memiliki pendapat, “sudahlah kita kesampingkan dulu masalah Irak, Afghanistan, Palestina dan pelanggaran HAM lainnya. Mereka ini Negara adidaya, mau mengunjungi kita yang hampir terhapus dari peta dunia, seharusnya kita bersyukur. Sekarang mereka datang mau menerapkan softpower, sektor pendidikan kita akan dibantu, sektor kesehatan kita akan ditingkatkan, investasi pengusaha Amerika di Indonesia, korupsi diberantas, plus kita dapat dana hibah”. Beberapa dari panelis di acara tersebut juga berpendapat “kita contoh Cina yang mengirimkan pelajarnya ke Amerika, lalu mereka pulang sebagai ilmuan yang membangun Cina seperti sekarang. Kita sudah punya juarawan-juarawan fisika, mari kita bangun kerjasama dengan Amerika seperti Cina sehingga kita juga punya ilmuan-ilmuan yang pasti membangun Indonesia”.


Amerika menyuarakan hak asasi manusia dengan lantang, suaranya terdengar mulai dari lembaga pendidikan hingga ke dunia per-film-an mereka. Gaungnya pun masih terdengar hingga tingkat internasional. Tetapi nyatanya suara itu palsu, dengan meyebarkan cluster agen-agennya di seluruh dunia Amerika mencoba meng-ekspansi pengaruhnya, sehingga jika ada yang bersuara sumbang dari suaranya, suara sumbang tersebut bisa di bungkam/di-customize sesuai dengan kebutuhan. Pengaruhnya nyata mulai dari benua Amerika hingga Afrika. Beberapa bukti nyata suara palsu HAM Amerika adalah invasi militernya ke Afghanistan, Irak dan kejahatan perang anak haramnya Israel terhadap Palestina dan Libanon. Sangatlah mengerikan jika kita berbicara angka, berapa banyak bangunan hancur, sekolah menjadi puing, rumah sakit rusak, tempat peribadatan ditembaki, sistem yang telah dibangun oleh masyarakat sejak puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu musnah dalam hitungan hari, keluarga yang tercerai berai, bayi-bayi tak berdosa mati tertembus peluru atau tertimpa runtuhan bangunan, balita-balita compang-camping berkeliaran tanpa tempat tinggal, tanpa orangtua yang mengingatkan waktu makan mereka, dan banyak hal memilukan yang terjadi atas nama pemberantasan terorisme dan kepemilikan senjata pemusnah masal yang ternyata itu hanya bagian dari kenyataan suara palsu HAM Amerika.


Bahkan tidak sedikit ‘anak-anak Amerika’ Indonesia yang membawa pulang suara palsu ini dan jatuh hati padanya. Anak-anak ini sangat mudah melupakan kejahatan perang yang sangat nyata dilihat dari kacamata kemanusiaan sejati manapun. Dengan memandang kemajuan disegala bidang yang Amerika dapatkan dari politik ekspansionis -neokolonialisme- dan rayuan manis Amerika. Tetapi tidak sedikit dari ‘anak-anak Amerika’ Indonesia yang kembali menjadi anak-anak Indonesia yang memandang HAM secara utuh. Amerika dengan tangan kanannya memetik kepala manusia-manusia di daerah jajahannya dan dengan tangan kirinya menawarkan sejuta harapan. Harapan macam apa?????


Perihal investasi Amerika, sebagian besar dari kita tahu keadaan ekonomi bangsa ini tidak mengalami kemajuan, terlihat dari meningkatnnya jumlah pengangguran, PHK, unjuk rasa buruh dimana-mana, berita pabrik yang gulung tikar, birokrasi yang rumit dan pungutan liarnya, dan sekelumit masalah lainnya. Adalah tidak mungkin pakar-pakar ekonomi Amerika dengan kanal-kanal informan dan analisnya yang menggeluti dunia perekonomian dunia, tidak mengetahui keadaan ekonomi Indonesia yang merupakan lahan yang mudah –bahkan sedang- longsor jika dibangun sesuatu diatasnya, yang nantinya sangat menyulitkan para investor Amerika sendiri. Ada gerangan apa investor Amerika yang penuh perhitungan datang membangun kerja sama dengan Indonesia, sedangkan investor lain justru memilih lahan lain yang lebih menjanjikan dari Indonesia? Pasti ada agenda lain yang bertujuan menguntungkan mereka.


Cina memiliki komitmen dalam memberantas korupsi, pejabat yang bertekad memberantas korupsi pun menyediakan peti mati untuknya jika dia ternyata melakukan praktek korupsi. Sejak saat itu Cina menanjak menuju peradaban yang lebih tinggi. Bagaimana dengan nasib juarawan olimpiade fisika kita –ilmuwan potensial bangsa-? Bagaimana mungkin buah yang segar dimasukkan ke wadah yang penuh kotoran bisa membuat wadah tersebut tampak lebih indah? Sistem di Indonesia membuat generasi penerusnya yang memiliki idealisme membangun Indonesia, menjadi kehilangan -mematikan- potensinya ketika memasuki sistem tersebut. Kita lihat saja bagaimana Indonesia memperlakukan ilmuwan-nya seperti B.J. Habibie. Bagaimana kita bisa berharap maju seperti Cina jika sistem di negara kita tidak menghargai mereka dan dunia mereka -pendidikan-?


Bukan berarti bangsa ini sudah kehilangan harapan, harapan selalu tumbuh setiap bangsa ini mampu menghargai kemanusiaan secara utuh, dan harapan itu tidak hanya sekedar sebuah hal yang potensial tetapi aktual dan ‘menggerakkan’ menuju hal-hal yang mulia. Kemanusiaan tidak hanya soal solidaritas dan tidak menindas, kemanusiaan harus dicapai dengan pemenuhan kebutuhan manusia itu sendiri, sehingga setiap manusia –warga negara- mampu memberdayakan dan mengembangkan dirinya sampai ke level yang tertinggi. Tentu saja level yang tertinggi dicapai secara individu dan lebih bersifat ‘pencapaian’ bukan sekedar verbal. Tingginya peradaban suatu bangsa tergantung dari pencapaian kemanusiaan oleh bangsa tersebut.